“Dulu saya jual pempek keliling. Sekarang punya rumah produksi dan lima karyawan.”
Setiap pagi selama tujuh tahun, Siti Aminah mendorong gerobak pempeknya menyusuri gang-gang di Kelurahan 3–4 Ulu, Palembang. Penghasilannya tak menentu, kadang habis untuk modal esok hari.
Setiap pagi selama tujuh tahun, Siti Aminah mendorong gerobak pempeknya menyusuri gang-gang di Kelurahan 3–4 Ulu, Palembang. Penghasilannya tak menentu, kadang habis untuk modal esok hari.
Titik baliknya datang pada awal 2024, ketika seorang kader PKK mengajaknya ikut pelatihan digital marketing yang diselenggarakan lewat program TJSL. Siti, yang saat itu bahkan belum punya akun media sosial, awalnya ragu.
BAB 1: Dari gerobak ke layar ponsel
Selama enam minggu, Siti belajar memotret produk, menulis keterangan yang menarik, hingga mengelola pesanan lewat aplikasi pesan antar. Pesanan pertamanya dari luar kota datang dari Jambi — tiga kilo pempek beku.
“Saya sampai menangis. Tidak menyangka ada orang jauh yang mau beli pempek saya,” kenangnya.
BAB 2: Modal kecil, langkah besar
Setelah pelatihan, Siti termasuk 40 peserta yang lolos kurasi untuk mendapat bantuan peralatan: freezer, mesin vakum, dan kemasan berlabel. Penjualannya naik hampir empat kali lipat dalam setahun.
“Yang paling berharga bukan alatnya, tapi keberanian untuk mencoba hal baru.” — Siti Aminah
PERJALANAN: Dari 2019 hingga hari ini
Kini Siti juga menjadi mentor bagi peserta angkatan berikutnya. Ia berharap lebih banyak ibu rumah tangga di Palembang berani memulai usaha dari dapur sendiri.